Rabu, 01 Juni 2011

jurnal karet

I. PENDAHULUAN
I.I Latar Belakang
Tanaman karet (hevea brasilliensis Mull Arg) mempunyai peranan penting dalam perekonomian Indonesia, karena merupakan penghasil devisa negara terbesar di antara tanaman perkebunan lain yang menempati urutan ketiga setelah minyak bumi dan kayu. Pengembangan dan pengusahaannya terus meningkat setiap tahunnya. Pengusahaan perkebunan karet di Indonesia di kelola oleh 3 pihak yaitu perkebunan karet rakyat, perkebunan karet negara dan perkebunan karet swasta. Dari luas perkebunan yang ada di Propinsi Jambi, perkebunan karet rakyat merupakan perkebunan terluas yaitu 99,15% perkebunan karet swasta sebesar 0,84% (Dinas Perkebunan Propinsi Jambi, 2006).
Untuk meningkatkan produktivitas perkebunan rakyat saat ini telah dilakukan berbagai upaya oleh pemerintah. Kegiatan yang dilakukan meliputi perluasan areal penanaman, pelaksanaan proyek intensifikasi, rehabilitasi, penyuluhan, teknik budidaya karet maupun penyebaran klon-klon unggul bibit karet (Setyamidjaja, 1993). Pertumbuhan bibit karet bukan dari hasil okulasi klon unggul relatif lebih lambat bila dibandingkan dengan bibit karet hasil okulasi. Disamping itu produktivitasnya juga lebih rendah (Balai Penelitian Sembawa, 1996).
Tanaman karet mempunyai manfaat yang sangat besar bagi kehidupan manusia. Karet dapat digunakan sebagai bahan baku dalam pembuatan sepatu karet, sabuk penggerak mesin, pembuatan ban kendaran. Selain itu dapat pula digunakan dalam pembuatan alat-alat rumah tangga seperti sandal, lem perekat barang, kursi, dan selang air. Sedangkan kayu dari tanaman karet yang telah tua dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar pembuatan mebel (Boerhendhy 2006), Selain itu biji karet juga dapat diolah sebagai bahan dasar pembuatan cat (Haris, Baryono, Hermansyah dan Bagya, 1995).
Provinsi Jambi merupakan salah satu sentra produksi karet di Indonesia, menempati urutan ketiga penghasil karet terbesar di Indonesia. Wilayah pengembangan tanaman karet tersebar di sembilan kabupaten yang ada di Provinsi Jambi. Pada tahun 2006 produksi karet Provinsi Jambi mencapai 261.284 ton dan pada tahun 2007 produksinya menjadi 529.695 ton hal ini menunjukan produksi tanaman karet di Provinsi Jambi meningkat.
Perkebunan karet di Provinsi Jambi dibagi menjadi 3 yaitu perkebunan karet rakyat, perkebunan karet negara dan perkebunan karet swasta. Dari luas perkebunan yang ada di Provinsi Jambi, perkebunan karet rakyat merupakan perkebunan yang terluas yaitu 97,5 % dari luas keseluruhan, sedangkan luas perkebunan karet negara 0,83 % dan luas perkebuan karet swasta sebesar 1,66 % (Dinas Perkebunan Provinsi Jambi, 2005).
Dalam menunjang keberhasilan usaha peningkatan produktivitas serta perluasan tanaman karet rakyat, salah satu aspek yang perlu diperhatikan adalah pengadaan bibit karet yang bermutu tinggi. Salah satu cara yang dapat dilakukan dalam upaya peningkatan mutu bibit yaitu dengan menggunakan bahan tanam atau bibit karet asal stump mata tidur (Kuswanhadi, 1990). Bibit stump mata tidur merupakan bibit yang mata tunasnya belum tumbuh, selama batang bawah tidak aktif memungkinkan penyesuaian waktu pemindahannya ke lapangan. Kelebihan lainnya adalah mudah di angkut, ringan dan biayanya murah. Tetapi angka kematian bibit cukup tinggi sekitar 15% apabila pembibitan dilakukan di lapangan. Dalam keadaan demikian usaha untuk memperkecil angka kematian dilapangan dilakukan pembibitan didalam polybag yang di ikuti dengan pemeliharaan intensif (Hutabarat, 1990 dalam Amypalupi, 1986).
Sebagai bahan tanaman, bibit okulasi karet harus benar-benar sehat dan tumbuh kuat. Untuk mendapatkan bibit yang baik perlu diciptakan kondisi yang dapat mendukung pertumbuhannya. Diamana tanaman memerlukan unsur hara baik makro maupun mikro, akan tetapi unsur hara tersebut tidak cukup tersedia di dalam tanah, maka untuk menutupi kekurangan tersebut perlu dilakukan pemupukan.
Pemberian pupuk organik adalah sebagai alternatif untuk mengembalikan kesuburan tanah guna mempertahankan produktivitas lahan. Pupuk organik juga dapat memperbaiki sifat fisik tanah (struktur tanah, kemantapan agregat tanah dan daya pegang air terhadap tanah), sedangkan terhadap sifat kimia tanah perannya adalah meningkatkan nilai tukar kation tanah, menyuplai hara dan juga meningkatkan aktivitas mikroba tanah (Barus et al., 1987 dalam Zurhalena et al., 2005). Pupuk organik dapat berupa pupuk kandang, pupuk hijau, limbah kelapa sawit (sludge, abu janjang kelapa sawit dan lain-lain), kascing serta kompos.
Sumber bahan organik yang jumlahnya cukup besar dan belum banyak di manfaatkan adalah alang-alang. Alang-alang merupakan jenis rumput yang kosmopolit dan tergolong gulma, namun dengan kandungan bahan organiknya alang-alang berpotensi untuk dijadikan kompos. Menurut Rauf dan Ritonga (1998) komposisi alang-alang bagian atas adalah 0,71 %N, 0,67 % P, 1,07 % K, 0,76 % Ca, 0,55 % Mg, 5,32 % Si.
Opake (1982) menyatakan bahwa tanah-tanah pembibitan harus mempunyai sifat fisik dan kimia tanah yang baik. Media tumbuh yang sesuai bagi pertumbuhan stump yaitu harus berdraenase baik, tidak bersifat toksik atau racun, kandungan haranya tinggi dengan kisaran pH antara 5,5 sampai 7,5 dan banyak mengandung bahan organik. Selanjutya Dina (1994), bahan organik sebagai media tanam mampu menyediakan unsur-unsur hara bagi tanaman. Bahan-bahan ini memiliki pori-pori makro dan mikro yang hampir seimbang sehingga sirkulasi udara cukup baik dan mempunyai daya serap air yang tinggi.
Selain itu untuk mendapatkan hasil produksi yang tinggi pada tanaman karet baik ditinjau dari segi kualitas maupun kuantitas maka perlu bibit yang baik, sebagai bahan tanaman. Untuk mendapatkan bibit yang sehat dan cepat sesuai kebutuhan dilapangan salah satu penentu adalah komposisi media di pembibitan.
Penggunaan komposisi media tumbuh yang tepat akan menentukan pertumbuhan bibit dipembibitan. Hartman dan Kaster (1975) dalam Ansori 2005, menyebutkan bahwa media untuk pertumbuhan disarankan berasal dari bahan yang tidak cepat memadat, kokoh, aerasi baik, bebas gulma dan subur. Selanjutnya Wijaya, Reza dan Tuserkih (1995), komposisi media tumbuh yang digunakan harus mempunyai sifat mudah didapat, gembur dan subur sehingga memungkinkan pertumbuhan bibit yang optimal.
Berdasarkan uraian tersebut di atas maka penulis telah melakukan penelitian mengenai ” Pengaruh Pemberian Kompos Alang - alang terhadap Pertumbuhan Bibit Karet (Hevea brasiliensis Mull. Arg) ” Asal Stump Mata Tidur di Polybag”.

I.2 Tujuan
Tujuan Penelitian untuk melihat pengaruh pertumbuhan bibit karet asal stump mata tidur di polybag akibat pemberian kompos alang-alang. Untuk mendapatkan komposisi kompos alang-alang dan tanah yang memberikan pengaruh terbaik terhadap pertumbuhan bibit karet asal stump mata tidur di polybag.

1.3 Kegunaan Penelitian
Kegunaan dari penelitian ini adalah untuk memberikan informasi dan pemikiran kepada para petani dalam usaha meningkatkan produktivitas dan mutu tanaman karet di masa datang khususnya bagi perkebunan karet rakyat

1.4 Hipotesis
1. Pemberian Kompos alang-alang ini dapat memberikan pengaruh yang berbeda terhadap pertumbuhan bibit karet (Hevea brasiliensis mull. arg) asal stump mata tidur di polybag
2. Terdapat Kompos alang-alang yang memberikan pertumbuhan bibit karet asal stump mata tidur di polybag



II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tinjauan Umum Tanaman Karet
Tanaman karet (Havea brasiliensis Mull. Arg), merupakan tanaman yang tergolong tanaman tahunan yang berbentuk pohon yang cukup besar. Menurut Tjitrosoephomo (1991) Dalam dunia tumbuhan tanaman karet tersusun dalam sistematika berikut :
Divisio : Spermatophyta
Kelas : Dikotiledoneae
Ordo : Euphorbiales
Famili : Euphorbiaceae
Genus : Havea
Spesies : Havea brasiliensis Mull. Arg.
Perakaran tanaman karet tersusun atas akar tunggang, akar lateral dan akar baru. Akar lateral pertumbuhannya menyebar ke segala arah. Ketiga akar ini adalah system dari tanaman yang berada pada bagian bawah permukaan tanah dan berperan besar dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Perkembangan perakaran tanaman pada umumnya dipengaruhi oleh dua faktor yaitu energi yang tersedia dalam jaringan tanaman dan keadaan lingkungan pertumbuhan akar. Pada mulanya pertumbuhan akar hanya terbatas pada daerah sekitar pohon setelah lebih dari lima tahun barulah akar mulai menyebar lebih jauh lagi dari pohon. Panjang akar tunggang mampu mencapai kedalaman 2 meter atau lebih, sedangkan akar lateralnya mampu menyebar hingga 20 meter atau lebih (Disbun 1993).
Fungsi utama akar tanaman karet yaitu sebagai penopang berdirinya tanaman dan sebagai organ yang berfungsi dalam pengambilan air dan unsur hara dari dalam tanah. Akar merupakan organ tanaman yang memiliki peranan yang sangat penting dalam perkembangan dan pertumbuhan tanaman karet, maka dari itu akar tanaman karet harus tumbuh dengan baik agar dihasilkan tanaman yang baik. Kulit batang tanaman karet memiliki struktur anatomi seperti tanaman dikotil lainnya. Pada bagian kulit batang karet terdapat pembuluh latek, yang banyak mengandung getah atau latek.
2. 2. Syarat Tumbuh Tanaman Karet
2.2.1 Iklim
Tanaman karet adalah tanaman daerah tropis. Daerah topis yang cocok untuk tanaman karet adalah pada zona antara 150LU dan 150LS. Tumbuh sangat baik pada daerah antara 50LU sampai 60LS. Pada daerah dengan ketinggian antara 0-400 meter di atas permukaan laut tanaman karet dapat tumbuh dengan baik. tanaman karet membutuhkan curah hujan minimal 1500 mm/tahun dengan distribusi yang merata agar pertumbuhanya baik (Setyamidjaja 1993).
Tanaman karet membutuhkan suhu harian berkisar 25-30oC. Tanaman karet juga membutuhkan setidaknya 5-7 jam penyinaran matahari, apabila lamanya penyinaran matahari kurang dari 5 jam maka akan menyebabkan rendahnya produktivitas yang dihasilkan (Disbun 1993). Selain faktor curah hujan, penyinaran dan ketinggian tempat. Tanaman karet juga sangat dipengaruhi oleh angin, angin yang kencang pada musim-musim tertentu dapat mengakibatkan kerusakan pada tanaman karet yang berasal dari klon-klon tertentu yang peka terhadap angin yang kencang.

2.2.2 Tanah
Menurut Setyamidjaja (1993) Tanaman karet dapat tumbuh dengan baik pada berbagai jenis tanah, akan tetapi tanah yang baik dalam mendukung pertumbuhan tanaman karet adalah tanah jenis latosol, vulkanik dan alluvial. Tanah jenis vulkanis umumnya memiliki sifat fisika yang cukup baik. Sifat tanah yang cocok untuk tanaman karet adalah sebagai berikut:
a. Solum cukup dalam, sampai 100 cm atau lebih, dan tidak terdapat batu-batuan
b. Aerase dan drainase baik
c. Remah, porus dan dapat menahan air
d. Tekstur terdiri atas 35% liat dan 30% pasir.
e. Tidak bergambut, kandungan unsur hara N,P,K cukup dan tidak kekurangan unsur mikro
f. pH tanah 4,5 – 6,5 dan kemiringan tanah tidak lebih dari 16% serta permukaan air tanah tidak kurang dari 100 cm.
2.3. Pembibitan Tanaman Karet
Pembibitan tanaman karet merupakan bagian dari kegiatan pembiakan tanaman karet, secara umum penyedian bibit karet untuk keperluan peremajaan maupun penanaman areal baru terdiri atas bibit asal biji dan bibit okulasi. Pembibitan tanaman karet dilakukan melalui dua tahap kegiatan diantaranya adalah persemaian perkecambahan dan persemaian bibit. Persemaian perkecambahan adalah persemaian yang bertujuan mengecambahkan benih karet. Perkecambahan adalah untuk mendapatkan bibit batang bawah yang pertumbuhannya cepat dan seragam. Perkecambahan dilakukan 5-21 hari di persemaian, bibit yang akan digunakan diseleksi terlebih dahulu. Pemindahan bibit dilakukan dari stadia pancing bahkan sampai stadia payung pertama.
Biji yang digunakan sebagai kecambah untuk batang bawah diambil dari klon unggul yang bersertifikat sehingga nanti dihasilkan batang bawah yang pertumbuhannya baik. Menurut Setyamidjaja (1993), benih yang telah diseleksi sebelum disemaikan sebaiknya dicuci dan diremdam terlebih dahulu, tujuannya adalah untuk meningkatkan daya kecambah benih tersebut. Perendaman biji dilakukan setelah 48 jam. Perbanyakan tanaman karet saat ini dapat dilakukan dengan teknik okulasi, untuk mendapatkan bibit okulasi tanaman karet, dikenal 2 macam cara yaitu:
1. Okulasi hijau (green budding) merupakan okulasi yang menggunakan batang bawah berumur antara 4 sampai 6 bulan dimana batang bawah masih hijau. Pangkal batang telah berwarna hijau kecoklatan, berdiameter 1 sampai 1,5 cm atau sebesar pensil dan tinggi tanaman sekitar 60 cm. batang atas yang digunakan adalah kayu entres yang telah berumur 1 sampai 3 bulan setelah pemangkasan, warna masih hijau atau telah terbentuk 1 sampai 2 payung daun, dan payung teratas sudah berwarna hijau sampai hijau tua.
2. Okulasi coklat (Brown budding) merupakan okulasi yang menggunakan batang bawah yang telah berumur 7 sampai 12 bulan dipembibitan dan telah berdiameter 1,5 cm. batang atasnya berasal dari tanaman kebun entres yang berwarna hijau kecoklatan sampai coklat dan batang lurus.
Pada pembibitan tanaman karet, terdapat dua macam bibit yaitu bibit dalam polybag dan bibit tanpa polybag. Menurut Kuswanhadi (1990) bibit dalam polybag lebih sering digunakan karena memiliki keuntungan seperti pertumbuhan tanaman dilapangan dapat lebih awal, relatif lebih mudah penanganannya, resiko kerusakan selama pengangkutan dapat diperkecil dan bibit yang berasl dari polybag pertumbuhannya lebih seragam. Sedangkan bibit yang langsung ditanam ditanah atau tanpa polybag memiliki keuntungan karena biaya yang dikeluarkan sedikit tetapi kerugian dari cara ini adalah bibit yang akan digunakan harus dipindahkan dulu sehingga memakan waktu dan cara pemindahan harus dilakukan dengan hati- hati agar tidak merusak akar dan membutuhkan tenaga kerja yang banyak.
2.4. Tinjauan Umum Tentang Alang-alang
Tumbuhan alang-alang ini berbentuk herba, rumput, merayap, tinggi 30-180 cm. Batang: rimpang, merayap di bawah tanah, batang tegak membentuk satu perbungaan, padat, pada bukunyaberambut jarang. Daun: tunggal, pangkal saling menutup, helaian; berbentuk pita,ujung runcing tajam, tegak, kasar, berambut jarang, ukuran 12-80 cm. x 35-18 cm. Bunga: susunan majemuk bulir majemuk, agak menguncup, panjang 6-28 cm, setiap cabang memiliki 2 bulir, cabang 2,5-5 cm, tangkai bunga 1-3 mm, gluma 1; ujung bersilia, 3-6 urat, Lemma 1 (sekam); bulat telur melebar, silia pendek 1,5-2,5 mm. Lemma 2 (sekam); memanjang, runcing 0,5-2,5 mm. Palea (sekam); 0,75-2 mm. Benang sari: kepala sari 2,5-3,5 mm, putih kekuningan atau ungu. Putik: kepala putik berbentuk bulu ayam. Buah: tipe padi. Biji: berbentuk jorong, panjang 1 mmlebih. Waktu berbunga : Januari -Desember.
Daerah distribusi, Habitat dan Budidaya: Di Jawa tumbuh pada ketinggian sampai dengan 2700 m dpl, padadaerah-daerah terbuka atau setengah tertutup; rawa-rawa; pada tanah dengan aerasi yang baik; pada daerah-daerah yang habis dibuka; ditepi sungai; ekstensif pada hutan sekunder; daerah bekas terbakar; sebagai gulma di perladangan; tamandan perkebunan. Tumbuhan ini dapat mempengaruhi tanaman kultivasi lain, karenakebutuhan natrium yang relatif tinggi. Perbanyakan: berkembang biak dengan sendirinya. Setiap saat rimpang dipanen dari tumbuhan yang telah matang.Rimpang yang baik berwarna pucat, berasa manis dan sejuk. Alang-alang dapat menuyebabkan penurunan pH tanah. Besarnya penurunan pH dan hambatanterhadap proses nitrifikasi menunjukkan adanya korelasi positif dengan pertumbuhan alang-alang.
Salahsatu permasalahan di bidang pertanian yang dialami para petani adalah adanya tanaman pengganggu (gulma). Keberadaan tanaman pengganggu ini pada kenyatannya bisa mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang dibudidayakan. Alang-alang merupakan salahsatu jenis tanaman pengganggu yang banyak ditemukan di berbagai lahan pertanian di Indonesia. Makhluk hidup yang satu ini memberikan pengaruh negatif terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman lain disekitarnya karena dia bisa menghambat laju pertumbuhan tanaman lain atau bahkan sesama jenis tanaman itu sendiri. Pada lahan yang kritis dengan vegetasi alang-alang (Imperata cylindrica) yang banyak, para ahli telah membuktikan bahwa Allelopathy dapat menghambat pertumbuhan, perkecambahan, dan kematian. Tanaman disekitarnya akan tumbuh lebih kerdil bahkan sampai mati dan layu akibat zat yang dikeluarkannya yang disebut Allelopathy. Dalam fungsinya, zat ini mengganggu aktivitas hormon giberelin pada tumbuhan, sehingga pertumbuhan tanaman terhambat dan tanaman menjadi kerdil bahkan bisa sampai mati jika konsentrasi zat ini terlalu berlebihan.
Berawal dari hal ini, muncullah ide pengembangan Allelopathy untuk teknik pemberantasan gulma secara alamiah sehingga akan lebih mudah, aman dan relatif ekonomis. Penelitian membuktikan bahwa cara kerja dari Allelopathy ini tidak jauh berbeda dengan herbisida kimiawi (non alami) seperti biasa. Zat ini bisa menjadi alternatif pilihan para petani dalam memberantas gulma sehingga kedepannya para petani akan menjadikan alang-alang sebgai tanaman yang dapat menyumbang unsure hara sebagai pertumbuhan tanaman karet. Maka dari itu aternatip yang akan digunakan adalah menjadikan alang-alang sebagai kompos. Karena Menurut Rauf dan Ritonga (1998) komposisi alang-alang bagian atas adalah 0,71 %N, 0,67 % P, 1,07 % K, 0,76 % Ca, 0,55 % Mg, 5,32 % Si. Yang dapat menyumbang unsure hara untuk pertumbuhan tanaman dalam polibag.

III. METODE PENELITIAN
3.1 Tempa dan Waktu Penelitian
Penelitian ini telah dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Jambi yang terletak di Desa Mendalo Darat, Kecamatan Jambi Luar Kota, Kabupaten Muara Jambi dengan ketinggian tempat sekitar 35 m di atas permukaan laut (dpl). Penelitian ini dilaksanakan selama 4 bulan, mulai bulan November 2008 sampai bulan maret 2009.
3.2 Alat dan Bahan Penelitian
Bahan yang telah digunakan dalam penelitian ini adalah Stump mata tidur karet klon BPM 1, air, tanah ultisol, polybag ukuran 35x40 cm, atap daun nipah, kayu, paku, Trichoderma harzianum, alang-alang, Urea, Decis 2,5 EC, Dithane M-45. Alat yang telah digunakan pada penelitian ini meliputi cangkul, parang, gergaji, meteran, palu, ayakan tanah, timbangan analitik, jangka sorong, oven, dan alat tulis.
3.3 Rancangan Percobaan
Percobaan ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan perlakuan kompos alang-alang yang terdiri dari 6 taraf perlakuan yaitu :
A0 : Tanpa kompos
A1 : 3Kompos alang-alang:1Tanah
A2 : 2Kompos alang-alang:1Tanah
A3 : 1Kompos alang-alang:1Tanah
A4 : 1Kompos alang-alang:2Tanah
A5 : 1Kompos alang-alang:3Tanah
Masing-masing perlakuan di ulang sebanyak 4 kali, sehingga diperoleh 24 petak percobaan. Setiap petak terdiri dari 6 tanaman, sehingga jumlah tanaman seluruhnya adalah 144 tanaman, penentuan sampel dilakukan dengan sistem acak dan setiap petak percobaan di ambil 2 tanaman sampel. Maka jumlah seluruh tanaman sampel adalah sebanyak 72 tanaman sampel.


3.4. Pelaksanaan Penelitian
3.4.1. Persiapan Tempat Penelitian dan persiapan Perlakuan
Alang-alang segar dicacah atau dipotong-potong dengan panjang lebih kurang 5 cm dan diaduk rata. Sebelum proses pengomposan terlebih dahulu alang-alang dikering anginkan di alam terbuka selama 24 jam untuk memberikan kesempatan melepas senyawa fenol yang dikandungnya. Potongan alang-alang tersebut kemudian dimasukkan ke dalam bak pengomposan yang berukuran 3m x 1m x 1m. Pembuatan kompos alang-alang menggunakan bahan aktivator, yaitu Urea 1,5 kg, pengomposan dilakukan dengan perbandingan 1000 kg alang-alang : 9 kg trichoderma. Pada ketinggian tumpukan alang-alang 10 cm diberikan aktivator yang ditebar merata di atas tumpukan alang-alang tersebut. Kegiatan ini diulang lagi sampai ketinggian 1 m. Tumpukan alang-alang disiram dan dinaungi. Selama proses pengomposan dilakukan penyiraman setiap 4 hari sekali dan setiap 1 minggu dilakukan pembalikan tumpukan dengan tujuan agar bahan aktivator dan alang-alang bercampur merata. Untuk menjaga kelembaban tumpukan alang-alang dilakukan penyiraman agar keadaan tetap lembab. Pemanenan kompos alang-alang dilakukan lebih kurang 60 hari. Struktur bahan telah hancur, bahan asal tidak dikenali lagi, warna coklat sampai hitam, tidak berbau dan pH mendekati netral.
Persiapan tempat penelitian dengan membersihkan areal yang digunakan untuk penelitian dari berbagai kotoran dan gulma. Untuk melindungi bibit dari panasnya sinar matahari serta terpaan air hujan maka dibuat naungan dari atap daun nipah, tinggi naungan bagian timur 175 cm dan tinggi naungan di bagian barat 125 cm. Tanah di kering anginkan selama 24 jam, kemudian diayak dan dicampur secara merata dengan kompos alang-alang. Media tanam dimasukkan kedalam polybag ukuran 35 x 40 cm.

3.5 Variabel yang Diamati
3.5.1 Panjang Tunas
Panjang tunas diukur 2 MST kemudian diulang dengan interval 2 minggu sekali sampai akhir penelitian. Caranya setiap bibit diukur panjang tunas diukur mulai dari pangkal tunas okulasi.

3.5.2 Diameter Tunas
Pengukuran diameter tunas juga dilakukan 2 MST, dengan pertimbangan yang sama dengan pengukuran tinggi tanaman. Pengukuran dilakukan 2 cm diatas pangkal tunas dengan menggunakan jangka sorong yang diukur dari dua sisi tanaman. Untuk mendapatkan rata – rata hasil yang diperoleh dibagi 2 dengan satuan mm.
3.5.3 Luas Daun Total (cm2)
Pengukuran luas daun total dilakukan pada akhir penelitian dengan menggunakan leaf area meter, dengan cara daun diletakakan diatas leaf area meter dan ditutup dengan plastik transparan kemudian dibaca dengan satuan cm2.
3.5.4 Bobot kering Akar
Pengamatan dilakukan pada akhir penelitian dengan cara memotong akar dari pangkal batang kemudian dibersihkan dan dikeringkan dalam oven pada suhu 800C selama 2 x 24 jam. Kemudian ditimbang, Pengeringan dilanjutkan lagi selama 2 jam dan ditimbang lagi sampai mendapatkan berat kering yang konstan. Satuan yang digunakan yaitu gram.



3.5.5 Bobot Kering tajuk
Pengamatan dilakukan pada akhir penelitian dengan cara memotong bagian bagian tajuk tanaman mulai dari pangkal tunas , bagian tajuk tanaman yaitu bagian atas tanaman yang terdiri dari tunas dan dibersihkan kemudian dikeringkan dalam oven pada suhu 1050C selama 2 x 24 jam. Kemudian ditimbang, setelah ditimbang dikeringkan lagi hingga diperoleh berat konstan. Satuan yang digunakan yaitu gram.


IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Panjang Tunas
Hasil analisis ragam terhadap panjang tunas karet menunjukkan bahwa pemberian komposisi kompos alang-alang berpengaruh nyata terhadap panjang tunas karet. Hasil pengamatan respon panjang tunas karet terhadap pemberian komposisi kompos dapat dilihat pada Tabel 1.


Tabel 1. Respon panjang tunas karet terhadap pemberian komposisi kompos alang-alang.

Komposisi Kompos Alang-alang
(kompos: tanah) Panjang Tunas
(cm)
1Kompos alang-alang : 2Tanah 51,44 a
1Kompos alang-alang : 3Tanah 46,63 ab
3Kompos alang-alang : 1Tanah 43,56 ab
2Kompos alang-alang : 1Tanah 42,94 ab
1Kompos alang-alang : 1Tanah 38,69 bc
Tanpa kompos 30,50 bc
Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% Uji Jarak Ganda Duncan.



Tabel 1 Menunjukkan bahwa pada media dengan komposisi 1 kompos alang-alang:2 tanah/polybag menghasilkan rata-rata panjang tunas karet tertinggi (51,44 cm) dan berbeda nyata dengan media campuran sebanyak 1 kompos alang-alang:1 tanah/polybag, dan tanpa kompos/polybag akan tetapi tidak berbeda nyata dengan media 1 kompos alang-alang:3 tanah/polybag, 3 kompos alang-alang:1 tanah/plolybag, 2 kompos alang-alang:1 tanah/polybag. Selain itu juga dilihat bahwa panjang tunas karet terendah (30,50 cm) terjadi pada media tanpa kompos/polybag.
Diameter Tunas
Hasil analisis ragam terhadap diameter tunas karet menunjukkan bahwa pemberian komposisi kompos alang-alang berpengaruh nyata terhadap diameter tunas karet. Hasil pengamatan respon diameter tunas karet terhadap pemberian komposisi kompos dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2 Respon diameter tunas karet terhadap pemberian komposisi kompos alang-alang.


Komposisi Kompos Alang-alang
(kompos: tanah) Diameter Bibit
(mm)
1Kompos alang-alang : 2Tanah 7, 91 a
1Kompos alang-alang : 3Tanah 7,68 ab
3Kompos alang-alang : 1Tanah 7,13 abc
2Kompos alang-alang : 1Tanah 6,83 bc
1Kompos alang-alang : 1Tanah 6,63 c
Tanpa kompos 6,18 c
Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% Uji Jarak Ganda Duncan.




Tabel 2 Menunjukkan bahwa pada media dengan komposisi 1 kompos alang-alang:2 tanah/polybag menghasilkan rata-rata diameter tunas karet tertinggi (7,91 mm) dan berbeda nyata dengan media campuran kompos alang-alang sebanyak 2 kompos alang-alang:1 tanah/polybag, 1 kompos alang-alang:1 tanah/polybag dan media tanpa kompos/polybag akan tetapi tidak berbeda nyata dengan media kompos alang-alang sebanyak 1 kompos alang-alang:3 tanah/polybag, 3 kompos alang-alang:1 tanah/plolybag. Selain itu juga dilihat bahwa diameter tunas karet terendah (6,18 mm) terjadi pada media tanpa kompos/polybag.
Luas Daun Total.
Hasil analisis ragam terhadap luas daun total karet menunjukkan bahwa pemberian kompos alang-alang berpengaruh nyata terhadap luas daun total karet. Pemberian kompos alang-alang dengan komposisi 1 kompos alang-alang:2 tanah/polybag menghasilkan rata-rata luas daun total bibit karet tertinggi (1416,63 cm2) dan berbeda nyata dengan media komposisi kompos alang-alang sebanyak 2 kompos alang-alang:1 tanah/polybag, 1 kompos alang-alang:1 tanah/polybag dan 0 kompos/polybag akan tetapi tidak berbeda nyata dengan media 1 kompos alang-alang :3 tanah/polybag, 3 kompos alang-alang:1 tanah/plolybag. Selain itu rata-rata luas daun total karet terendah (747,47 cm2) terjadi pada media tanpa kompos/polybag. Hasil pengamatan respon luas daun total karet terhadap pemberian komposisi kompos dapat dilihat pada Tabel 3.


Tabel 3. Respon luas daun total karet terhadap pemberian komposisi kompos alang-alang.


Komposisi Kompos Alang-alang
(kompos:tanah) Luas Daun Total
(cm2)
1Kompos alang-alang : 2Tanah 1416,63 a
1Kompos alang-alang : 3Tanah 1391,66 a
1Kompos alang-alang : 1Tanah 1284,50 ab
2Kompos alang-alang : 1Tanah 1193,17 b
3Kompos alang-alang : 1Tanah 1121,49 b
Tanpa kompos 747,47 c
Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% Uji Jarak Ganda Duncan.


Bobot Kering Akar
Hasil analisis ragam terhadap bobot kering akar karet menunjukkan bahwa pemberian kompos alang-alang berpengaruh nyata terhadap bobot kering akar karet. Pemberian kompos alang-alang dengan komposisi 1 kompos:2 tanah/polybag menghasilkan rata-rata bobot kering akar karet tertinggi (6,73 g) dan berbeda nyata dengan media komposisi kompos alang-alang sebanyak 2 kompos:1 tanah/polybag, 3 kompos alang-alang:1 tanah/plolybag, 1 kompos alang-alang:1 tanah/polybag dan media tanpa kompos/polybag akan tetapi tidak berbeda nyata dengan pemberian komposisi kompos alang-alang sebanyak 1 kompos-3 tanah/polybag. Selain itu rata-rata bobot kering akar karet terendah (2,43 g) terjadi pada media tanpa kompos/polybag. Hasil pengamatan respon bobot kering akar karet terhadap pemberian komposisi kompos dapat dilihat pada Tabel 4.


Tabel 4. Respon bobot kering akar karet terhadap pemberian komposisi kompos alang-alang.
Komposisi Kompos Alang-alang
(kompos:anah) Bobot Akar
(g)
1Kompos alang-alang : Tanah2 6.37 a
1Kompos alang-alang : Tanah3 5.66 a
2Kompos alang-alang : Tanah1 4.65 b
3Kompos alang-alang : Tanah1 4.39 b
1Kompos alang-alang : Tanah1 3.06 c
Tanpa kompos 2.43 c
Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% Uji Jarak Ganda Duncan.




Bobot Kering Tajuk
Hasil analisis ragam terhadap bobot kering tajuk karet menunjukkan bahwa pemberian kompos alang-alang berpengaruh nyata terhadap bobot kering tajuk karet. Pemberian 1 kompos alang-alang:2 tanah/polybag menghasilkan rata-rata bobot kering tajuk karet tertinggi (22,01 g) dan berbeda nyata dengan pemberian kompos alang-alang sebanyak 3 kompos:1 tanah/plolybag, 1 kompos alang-alang:1 tanah/polybag, 2 kompos alang-alang:1 tanah/polybag, dan media tanpa kompos/polybag walaupun tidak berbeda nyata dengan pemberian komposisi kompos alang-alang sebanyak 1 kompos-3 tanah/polybag. Sementara itu rata-rata bobot kering tajuk karet terendah (9,00 g) terjadi pada media tanpa kompos/polybag. Hasil pengamatan respon bobot kering tajuk karet terhadap pemberian komposisi kompos dapat dilihat pada Tabel 4.



Tabel 5. Bobot kering tajuk bibit karet pada berbagai komposisi kompos alang-alang.

Komposisi Kompos Alang-alang
(kompos-tanah) Bobot Kering Tajuk
(g)
1Kompos alang-alang : 2Tanah 22,01 a
1Kompos alang-alang : 3Tanah 19,74 a
3Kompos alang-alang : 1Tanah 14,83 b
1Kompos alang-alang : 1Tanah 14,27 b
2Kompos alang-alang : 1Tanah 10,31 c
Tanpa kompos 9,00 c
Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% Uji Jarak Ganda Duncan.



4.2. Pembahasan
Dari analisis ragam menunjukkan bahwa kompos alang-alang sebagai campuran media pada pembibitan karet menunjukkan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan bibit karet asal stum mata tidur. Hal ini dapat dilihat dari semua variabel yang diamati yaitu panjang tunas, diameter tunas, luas daun total, bobot kering tajuk dan bobot kering akar stump mata tidur.
Adanya pengaruh kompos alang-alang dan tanah disebabkan karena kompos alang-alang dapat memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah juga menyumbangkan unsur hara untuk pertumbuhan stump mata tidur. Dari sifat fisik tanah pada pemberian kompos alang-alang yang banyak dari tanah dapat mempengaruhi pembentukan pori tanah dan agregasi tanah, akhirnya akan meningkatkan porositas tanah yang diikuti menurunnya bobot isi campuran tanah dengan kompos alang-alang per satuan volume. Kandungan unsur hara yang terdapat didalam kompos alang-alang mempengaruhi ketersediaan unsur hara dalam tanah sehingga unsur hara yang dibutuhkan menjadi lebih tersedia bagi tanaman. Penambahan kompos alang-alang dapat membantu dan meningkatkan penyimpanan air dalam tanah, yang penting dalam melarutkan dan pengangkutan unsur hara, proses mineralisasi unsur hara, proses asimilasi, proses pembentukan karbohidrat serta pengangkutan hasil fotosintesis keseluruh jaringan tanaman.
Pertumbuhan tanaman yang optimal memerlukan suatu kondisi yang seimbang antara aerase dan drainase. Pada kondisi fisik media tanam yang optimum aerase dan drainase harus dapat menyediakan oksigen dan air yang diperlukan untuk perkembangan akar, dimana akar berperan dalam pertumbuhan dan kelangsungan hidup tanaman dengan jalan mengabsorbsi hara dan air. Kompos alang-alang dapat menyebabkan struktur tanah menjadi lebih sesuai untuk pertumbuhan tanaman. Kemudian pemberian kompos alang-alang juga meningkatkan pori drainase. Pori darinase ini erat hubungannya dengan agregasi tanah. Agregat yang stabil akan mempertahankan ruangan-ruangan udara dalam tanah sehingga menciptakan aerase tanah yang baik dan mempermudah air meresap kedalam tanah.
Dalam proses pertumbuhan tanaman, pertumbuhannya ditunjukkan oleh adanya pertambahan berat kering tanaman. Pertumbuhan dalam proses kehidupan tanaman ini mencerminkan bertambahnya protoplasma yang terbentuk baik karena ukuran maupun jumlah sel yang bertambah (Harjadi, 1996). Pada dasarnya pertumbuhan dan perkembangan tanaman ini adalah hasil dari aktifitas metebolisme sel-selnya. Selain dicerminkan oleh bobot kering, pertumbuhan tanaman juga ditunjukkan oleh adanya peningkatan tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun maupun luas daun total tanaman.
Berdasarkan kriteria pedoman penilaian tanah, pada analisis tanah setelah diinkubasi menunjukkan bahwa kandungan N total tergolong rendah, P dan K tersedia tergolong tinggi dibandingkan dengan analisis tanah awal dimana kandungan N total, P dan K tersedia yang tergolong rendah. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa pemberian kompos alang-alang dengan 1 kompos alang-alang:2 tanah/polybag (A4) mampu memberikan pertumbuhan tanaman yang tertinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya terhadap semua variabel yang diamati. Pemberian 1 kompos alang-alang:2 tanah/polybag menyediakan unsur hara secara optimum khususnya unsur N, dimana unsur N berperan esensial didalam pertumbuhan vegetatif tanaman. Tetapi, setelah diuji lanjut menunjukkan pemberian 1 kompos alang-alang:2 tanah/polybag tidak berbeda dengan pemberian kompos dengan 1 kompos alang-alang:3 tanah/polybag pada semua variabel yang diamati.
Unsur hara N, P, dan K berperan penting bagi pertumbuhan tanaman, berdasarkan hasil analisis unsur-unsur tersebut ada dalam kompos alang-alang. Unsur N sangat berperan penting dalam pembibitan stump mata tidur. Lakitan (1993) menyatakan bahwa dalam jaringan tumbuhan nitrogen (N) merupakan komponen penyusun dari banyak senyawa esensial bagi tumbuhan dan merupakan bagian penyusun enzim. Sugiarti (2008), menambahkan peranan utama N diperlukan untuk pembentukan atau pertumbuhan bagian vegetatif tanaman seperti daun, batang, dan akar. Selain itu, N juga berperan dalam hal pembentukan hijau daun yang berguna sekali dalam fotosintesis dan meningkatkan perkembangan mikro-organisme di dalam tanah. Kekurangan unsur N dapat menghambat pertumbuhan tanaman.
Pada pemberian 1 kompos alang-alang:3 tanah/polybag, 1 kompos alang-alang:1 tanah/polybag, 2 kompos alang-alang:1 tanah /polybag, 3 kompos alang-alang:1 tanah/polybag dan media tanpa kompos/polybag terlihat bahwa pertumbuhannya rendah bila dibandingkan dengan komposisi 1 kompos alang-alang:2 tanah/polybag, namun pada beberapa variabel pengamatan menunjukkan tidak berbeda. Hal ini berarti tanaman belum mendapatkan unsur hara yang optimal dalam melakukan aktifitas pertumbuhannya terutama unsur N. Unsur P dalam kompos berperan dalam metabolisme sel tanaman sehingga berperan terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman khususnya dalam sistem perakaran tanaman. Analisis P menunjukkan bahwa kandungan P tersedia tergolong tinggi dibandingkan dengan analisis awal yang tergolong rendah. Serapan hara sebanyak 1 kompos alang-alang:2 tanah/polybag (A4) telah menunjukkan bobot akar yang tertinggi, walaupun tidak berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa unsur P tersedia dan dapat diserap dengan baik pada semua perlakuan yang diberikan.
Komposisi media 1 kompos alang-alang:2 tanah (A4) berpengaruh terhadap panjang tunas, diameter tunas, luas daun total, berat kering tajuk dan berat kering akar diduga karena pada komposisi 1 kompos alang-alang:2 tanah (A4) memiliki sifat fisik dan kimia yang baik. Opake (1982) menyatakan bahwa tanah-tanah pembibitan harus mempinyai sifat fisik dan kimia tanah yang baik. Media tumbuh yang sesuai bagi pertumbuhan stump yaitu harus berdainase yang baik, tidak bersifat toksik atau racun, kandungan haranya tinggi dengan kisaran pH antara 5,5 sampai 7,5 dan banyak mengandung bahan organik.
Bahan organik sebagai media tanam mampu menyediakan unsur-unsur hara bagi tanaman. Bahan-bahan ini memiliki pori-pori makro dan mikro yang hampir seimbang sehingga sirkulasi udara cukup baik dan mempunyai daya serap air yang tinggi (Dina, 1994).
Selain unsur N dan P, unsur K juga merupakan unsur hara utama bagi tanaman. Unsur K berperan penting dalam fotosintesis karena secara langsung meningkatkan pertumbuhan dan indeks luas daun, dan karenanya juga meningkatkan asimilasi CO2 serta meningkatkan translokasi hasil fotosintesis keluar daun (Wolf., 1976 dalam Gardner et al., 1991). Ditambahkan oleh Sugiyarti (2008), unsur K membantu pembentukan protein dan karbohidrat serta meningkatkan daya tahan tanaman terhadap kekeringan dan penyakit. Dengan demikian apabila tanaman mendapatkan unsur-unsur ini dalam keadaan cukup dan berimbang, maka pertumbuhannya akan berjalan dengan baik karena proses fotosintesis dan translokasi fotosintat dari daun ke jaringan meristem tanaman akan berjalan dengan lancar.
Bahan organik yang terdapat didalam kompos alang-alang dapat memperbaiki kondisi lingkungan tanaman baik secara fisik, kimia, maupun biologi tanah. Perbaikan sifat fisik tanah akibat penambahan bahan organik antara lain adalah memperbaiki struktur tanah, aerase, dan draenase tanah, porositas tanah dan meningkatkan daya sanggah air sehingga dapat dimanfaatkan untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Lingga (1995) menyatakan bahwa pupuk organik mempunyai pengaruh positif terhadap pertumbuhan tanaman terutama pada musim kering. Perbaikan sifat kimia tanah antara lain meningkatkan ketersediaan unsur hara makro seperti N, P, dan K, juga akan meingkatkan ketersediaan unsur hara mikro seperti Mg, Mn, dan Fe yang merupakan unsur pembentuk klorofil pada tanaman serta memperbesar kapasitas tukar kation. Hasil penelitian Burhanudin et al., (1999) menyatakan bahwa pemberian kompos alang-alang pada dosis 15 ton ha-1 mampu meningkatkan pH, C-organik, N-total, dan P tersedia dan menurunkan kadar Al. Hasil penelitian Arif (2007) menunjukkan bahwa pemberian kompos alang-alang memberikan pengaruh terhadap variabel jumlah daun, luas daun total, bobot kering pupus, bobot kering akar, jumlah biji per tongkol, hasil per tanaman. Pertumbuhan dan hasil tertinggi tercapai pada dosis 25 ton ha-1.
Pada semua variabel yang diamati menunjukkan bahwa pemberian 1 kompos alang-alang:2 tanah/polybag memperlihatkan pertumbuhan yang tertinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya, namun setelah diuji lanjut menunjukkan tidak berbeda dengan pemberian 1 kompos alang-alang:3 tanah /polybag. Selain itu, hasil uji lanjut menunjukkan evesiensi penggunaan kompos alang-alang terdapat pada 1 kompos alang-alang:3 tanah/polybag.


V. KESIMPULAN

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Pemberian kompos alang-alang meningkatkan pertumbuhan bibit karet asal stump mata tidur klon BPM 1 di polybag terhadap panjang tunas, diameter tunas, luas daun total, bobot kering tajuk dan bobot kering akar.
2. Pada media dengan kompos 1 kompos alang-alang:3 tanah/polybag memberikan respon pertumbuhan bibit karet yang terbaik asal stump mata tidur.










DAFTAR PUSTAKA
Ansori. 2005. pengaruh lama penyimpanan terhadap pertumbuhan karet asal stump mata tidur pada berbagai media tanam di polybag. Skripsi. Tidak dipuplikasikan.

Arif. R. 2007. Pertumbuhan dan hasil tanaman Jagung (Zea mays L.) dengan pemberian kompos alang-alang berbagai dosis. Skripsis Fakultas Pertanian Universitas Jambi. Tidak Dipublikasikan.

Amypalupy, K. 1986. Pengaruh penggunaan mulsa dan periode pemberian air terhadap pertumbuhan bibit karet dalam kantong plastik. Pusat Penelitian Perkebunan Sumbawa. Sumbawa.

Balai Penelitian Sembawa. 1996. Sapta bina usaha tani karet rakyat. Pusat Penelitian karet. Sembawa. Sumatera Selatan. 147 hal.

2003. Pengelolaan bahan tanam karet.Pusat penelitian sembawa. Sumatera Selatan. 53 Hal.

Boerhendhy, I. Dan kuswanhadi. 1992. Pengaruh ukuran polibeg pada pertumbuhan bibit berbagai klon karet. Buletin Perkebunan Rakyat.Pusat Penelitian Perkebunan Sembawa. 8(2): 95-101.

Burhanudin. Y, Zubaidah, A. Tasnim. 1999. Pemakaian kompos alang- alang (Imperata cylindrica (L.) Beauv ) pada tanah ultisol dan pengaruhnya terhadap ketersediaan P dan produksi kedelei. Stigma Vol. VII No.3 : 35-38. Padang.

Dina, A.S.1994. Aneka Jenis Media Tanam dan Penggunaannya. Penebar Swadaya. Jakarta

Dinas Perkebunan Propinsi Jambi. 1993. Vedemecum karet. Jambi. 280 hal

. 2006. Statistik Perkebunan. Pemerintahan Propinsi Jambi. Jambi.

Direktorat Jenderal Perkebunan. 1997.Petunjuk teknis pembibitan karet. Direktorat Bina Perbenihan. Jambi. 38 hal

Fahrullah. 1989. Pengaruh Frekwensi Penyiraman dan Perbandingan Media Tumbuh Terhadap Pertumbuhan Kakao (Theobroma cacao L.) Di Polybag. Skripsi. Fakultas Pertanian Uniersitas Jambi.

Gardner F.P., R. B Pearce dan R.L. Mitchell. 1982. Fisiologi tanaman. UI Press, Jakarta. Diterjemahkan oleh Susilo, H.

Hakim, N., M.Y. Nyakpa, AM. Lubis, S.G. Nugroho, M.A. Diha, G.B. Hong dan H.H. Bailey. 1986. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung. Lampung

Hardjowigwno, S. 1992. Ilmu Tanah. PT. Mediyatama Sarana Perkasa. Jakarta. 233 hal.

Harjadi, S. S. 1991 Pengantar Agronomi. PT. Gramedia. Jakarta.

Indriani, Y. H. 1999. Membuat kompos secara kilat. Penebar Swadaya. Jakarta. 62 hal.

Jamsari, Yunisman, dan Ardi. 2000. Pengaruh mulsa alang-alang (Imperata cylindrica(L.) BEAUV) terhadap larva ulat Grayak (Spodoptera litura Fabricius). Stigma. Vol. VII no. 4: 302-306 hal.

Kuswanhadi. 1990. Pengaruh zat pengatur tumbuh dan periode penyiraman pada pertumbuhan bibit karet dalam polibeg. BuletinPerkebunan Rakyat, Pusat Penelitian Perkebunan Sumbawa. 6(1) : 18-24

. 1992. Pengaruh batang bawah pada pertumbuhan dan produksi batang atas tanaman karet. 7(1): 21-26

Lakitan, B. 1993. Dasar-dasar fisiologi tumbuhan. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.


Mahali, I. 1989. Penggunaan sekam sebagai campuran media pada okulasi durian.Jurnal Penelitian hortikultura Solok. Sumbar.4(4): 1-10.

Murbandono, L. 1998. Membuat kompos. Penebar Swadaya. Jakarta. 54 hal

Opeke. 1982. Pupuk Peranan Bagi Pertanian. Kanisius. Yogyakarta.

Pane, T. 1996. Pertumbuhan Setek Lada (Piper ningrum L.) Pada Berbagai Komposisi Media dan Kedalam Tanam Di Polybag. Skripsi. Fakultas Pertanian.Universitas Jambi.

Rainiyati, Henny, H., dan Gusniwati. 1998. Pengujian kualitas kompos alang- alang dan pengaruhnya terhadap sifat tanah ultisol dan hasil tanaman cabe. Universitas Jambi. Jambi.

Rauf, A., dan M. D. Ritonga.1998. Dampak kompos alang-alang (Imperata cylindrica) pada sifat fisika- kimia Ultisol dan tanaman jagung. Kultura No. 146/147 September- Desember 1998 tahun ke-XXIX. 45-55.

Setyamidjaja, Djoehana. 1993. Karet budidaya dan pengolahan. Kanisius. Yogyakarta. 2007 hal.
Sianturi, N. 1989. Pembibitan okulasi tanaman karet . Balai Penelitian Perkebunan Sumbawa.

Sugiyarti. 2008. Pupuk dan pestisida. http://sugiyarti-unindra-bio2a.blogspot. Diakses 25 Februari 2009.

Tjitrosoepomo,G. 1993. Taksonomi tumbuhan. Ghajah mada University Press. Yogyakarta. 477 hal

Purnama. 2005. Penggunaan enzim sellulose dari Trichoderma reseei QM 9414 pada peningkatan laju pengomposan limbah padat. http://www. tl. IPB. ac. id.(Diakses bulan Mei 2007)

Wijaya, M. Reza dan E. Tuherkih.1995. Pengelolaan Usaha Pembibitan Tanaman Buah. Penebar Swadaya. Jakarta.

Yulinas. 2001. Pemanfaatan Trichoderma sp dalam pengomposan jerami dan pengendalian beberapa penyakit jamur akar. Karya Ilmiah. Universitas Jambi. Jambi.